Langsung ke konten utama

Postingan

1 Detik Berlalu Begitu Cepat, Tapi Seakan Lambat

Bahkan dalam waktu 1 detik pun sulit untukku menghapus bayangmu, memori bersamamu masih saja tertata rapi dalam sebuah ruang yang mungkin sekarang sudah usang. Aku memang tidak pernah melihatmu sedekat itu, tapi ratusan hari bersamamu menjadi bagian sementara rusukmu membuatku begitu bahagia. Memang layaknya roller coaster , kehidupan tidak akan selalu membawa bahagia, kesedihan yang mengelana menyita banyaknya ruang, hati dan pikiran. Saat kamu perlahan menghilang, dan ketika aku mulai belajar apa itu sebuah cinta dan cerita. Dalam benakku, aku berpikir bahwa ketika dua orang saling mencintai itu sudah cukup. Tapi ternyata aku keliru, cinta yang sesungguhnya adalah berlajar tentang menerima sebuah keikhlasan. Sebuah babak dimana aku dituntut untuk ikhlas sekaligus menerima, bahwa kamu sudah bukan bagian dari diriku, dan aku bukan lagi tulang rusuk yang ada dalam jiwamu. Aku yang berjalan dengan caraku sendiri, melewati setiap waktu seorang diri, dan kamu yang juga melewati waktu yan...

Aku Dalam Bayangku

 Hai, sapaku pada aku Yang masih saja berdiam Diantara redupnya cahaya Yang menghadapku Pantulan cahaya itu Membuat sketsa diriku Aku melihat diriku pada bayang Yang setia mengikuti langkahku Bayang itu menemaniku Kala cahaya menaungiku Tapi kala gelap menghampiri Bayang itu meninggalkanku Hanya ada aku dan kegelapan Yang masih begitu setia Mendampingiku, menuntunku Pada arah yang semu Bandung alwyh

Menelisik Ruang Hati

Aku masih di sini Masih kokoh bertahan Memijak pada tempat Yang akan kau datangi   Mencoba diam menelisik Memasuki labirin demi labirin Hampir saja aku tersesat Terjebak dalam lorong keraguan   Bahkan aku sempat Bertemu dengan badai Meragukan janji hati Yang sering kau lisankan   Tapi entah aku atau kau Yang tak perlu khawatir Karna hati ini begitu kuat Walau hampir tandas hingga tertindas           Bandung alwyh  

Tak Nyata

  Terima kasih Telah bertandang Ke dalam bunga tidurku Walau hanya sekejap   Terima kasih Ukir senyummu Sedikit mengobati pilu Walau akhirnya sendu   Hadirmu yang tak nyata Membuatku gundah gulana Rindu semakin tak bisa ditempa Dia terus menelusuri relung jiwa   Namun, aku tahu Kamu sekarang sudah memberi jarak Tapi biarkan bayangmu Yang ingin ku peluk erat     Bandung alwyh

Lara

Sanubari sudah tak ber muara Kini ia mengalir Ke arah tepian yang berbahaya Belatimu sudah menikam rasaku Menyisakan lara yang amat pilu   Kamu pergi tanpa ratap Meninggalkan sebuah atap Renjana yang kita rajut Kini menjadi ranjau tak terencana   Ku hanya bisa merapalkan kata Bersenandung kata tanpa sua Kubenamkan lara Agar kau tak terluka Bandung alwyh

Menetap Untuk Menatap

Untukmu. . . Kamu adalah hal yang aku tulis Dalam setiap bait puisiku Belenggu cintaku sudah tenggelam Menyusuri palung hatimu   Manik matamu begitu jernih Sehingga aku bisa melihat diriku Dari tatapanmu Tatapan yang meneduhkan   Di surya yang tenggelam Aku menatapmu Membuatku ingin menetap Tak ingin terpisah jarak   Bandung alwyh  

Tak Sama Lagi

Dering teleponmu adalah Satu dari sekian banyaknya candu Notifikasi pesanmu, membuatku menggebu Diiringi adanya rindu   Perlahan itu semua menjadi semu Tak ada kabar darimu Kini layar ponselku Hanya dihinggapi butiran debu   Titik hitam itu mulai mengisi Memenuhi seisi ruang Meninggalkan jejak Yang sulit untuk ditebak   Aku melihat dunia Ternyata masih sama dengan aktivitasnya Keramaian seakan ingin menghapus jejaknya Tapi langkah itu selalu menolaknya     Bandung alwyh