Bahkan dalam waktu 1 detik pun sulit untukku menghapus bayangmu, memori bersamamu masih saja tertata rapi dalam sebuah ruang yang mungkin sekarang sudah usang. Aku memang tidak pernah melihatmu sedekat itu, tapi ratusan hari bersamamu menjadi bagian sementara rusukmu membuatku begitu bahagia. Memang layaknya roller coaster, kehidupan tidak akan selalu membawa bahagia, kesedihan yang mengelana menyita banyaknya ruang, hati dan pikiran. Saat kamu perlahan menghilang, dan ketika aku mulai belajar apa itu sebuah cinta dan cerita.
Dalam benakku, aku berpikir bahwa ketika dua orang saling
mencintai itu sudah cukup. Tapi ternyata aku keliru, cinta yang sesungguhnya
adalah berlajar tentang menerima sebuah keikhlasan. Sebuah babak dimana aku
dituntut untuk ikhlas sekaligus menerima, bahwa kamu sudah bukan bagian dari
diriku, dan aku bukan lagi tulang rusuk yang ada dalam jiwamu. Aku yang
berjalan dengan caraku sendiri, melewati setiap waktu seorang diri, dan kamu
yang juga melewati waktu yang bahagia ketika lepas denganku.
Aku tidak pernah berpikir bahwa kamu akan sepicik itu dalam
meluluh-lantahkan hati ini, tapi aku senang waktu dengan cepat membuka
semuanya. Membuat aku lebih sadar dan sabar, bagian tersulit dari sebuah
kehidupan memang sebuah penerimaan untuk segala hal, termasuk ketika kamu yang
begitu saja pergi dan menghilang.
alwyh
Bandung
Komentar
Posting Komentar